Siapa Kakak yang Berhijab Hitam Itu?
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum
Warahmatullahiwabarakatuh
Semangat
Pagi!
Demi
masa. Sungguh, manusia berada dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta
saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (Q.S.
Al-Asr Ayat 1-3).
Kutemukan hari ini diriku tengah
menikmati matahari pagi bersama secangkir teh hangat yang ditemani sepasang
roti. Kubuka jendela lebar-lebar sembari menghirup udara segar, sejuk dan
menyejukkan. Kunikmati matahari pagi yang kini membelai kulit sawo matang wajahku
yang katanya semanis gula tebu. Tak lupa kusapa sang mentari yang kupinjam dari
belahan bumi lainnya.
Aku mengenakan sepatu sambil
mengecek ponselku. Kalau saja ada berita tentang libur kuliah hari ini.
Harapanku seperti mimpi saja, bila tak ada tanggal merah maka tak ada hari
libur. Senin hingga jumat aku harus berkutat berjibaku dengan waktu, berjalan
menuju kampus yang jaraknya sekitar satu kilometer saja. Itu sudah biasa, hanya
aku butuh teman untuk bicara.
Kini aku telah tiba di kampus, hari
ini aku bersemangat menuntut ilmu. Seperti biasa bangku paling depan adalah
tempatku. Seusai kuliah aku segera menuju mushola, kulihat seorang wanita
tinggi berkerudung hitam. Kulitnya putih ditambah lagi setelah ia berwudu maka
lengkaplah Allah beri sinar diwajahnya. Aku menjabat tangannya dan saling
melempar salam sembari memberi senyum semanis gula tebuku. Begitulah suasana di
kampusku, bukan akhwat namanya bila tak saling menebar senyum dan kebaikan.
Tak aku sangka, bahwa kakak itu akan
menjadi motivasi bagiku. Ia menuntut ilmu, berorganisasi namun tak pernah
tinggal berbagi dan menebar kebaikan di jalan Allah. Ia menjaga diri dari
pandangan laki-laki. Jika melihatnya aku selalu bersemangat untuk menjadi lebih
baik. Beberapa hari berlalu, mudah saja bagi Allah menebar kebaikan di muka bumi
ini. Kini, kami semakin dekat. Ia kini menjadi kakak untukku, ia terkadang
menasihatiku dan tak jarang kami saling berbagi masalah dan pengalaman dan
hebatnya kami memiliki banyak kesamaan.
Bila tiba saatnya ingin kunikmati
senja bersamanya, hanya perlu dua cangkir teh hangat dan beberapa keping roti.
Kami bisa menghabiskan waktu bersama, memohon pada Allah untuk kesehatan
keluarga kami di desa, memohon kemudahan mencapai kesuksesan, dan percepatan
kebahagiaan kami dan keluarga. Pada akhirnya kami akan pulang ke desa
masing-masing. Bila ingin bertemu entah bagaimana caranya, desaku berjarak satu
hari satu malam perjalanan ke desanya. Sudahlah jangan pikirkan hari itu,
semoga Allah selalu menjaga kami berdua, dua insan yang berharap membahagiakan
kedua orang tua dan keluarga, kami tanpa ikatan darah hanya sama-sama keturunan
dari Adam dan Hawa, dan lagi kami sama-sama Hamba Allah SWT dan umat Nabi
Muhammad SAW. Semoga kebahagiaan dunia akhirat senantiasa Allah berikan kepada
kami. Amin.

aamiin
BalasHapus😊
Hapus