Cerita dibalik Kapal Bapak



Bismillahirrahmanirrahim
          Assalamualaikum Warahmatullahiwabarakatuh
Semangat pagi!
          Senang rasanya ketika kita bisa membuat kedua orang tua kita tersenyum, bukan hanya dengan harta, tahta namun karena kehormatan, kebanggaan, prestasi dan kejutan-kejutan kecil yang tak terduga.
          Teman-temanku selalu mengejekku ketika bapak mencium pipiku didepan mereka. Namanya Syahril, tubuhnya tegap, tinggi dengan kulit sawo matang, wajahnya nampak serius namun manis, ia adalah orang yang murah senyum dan membuat tawa. Bila kau menemui lelaki tampan ini, ia adalah bapakku. Iya, bapak, begitulah aku memanggilnya. Terkadang papi, untuk sekedar gurauan. Tiba-tiba aku rindu.
          Semenjak tes perguruan tinggi dan persiapan berkuliah aku semakin dekat dengan bapak, ia yang mengantarku saat mengambil piagam sejauh 125 km selama 5 jam menggunakan motor melewati jalan lintas Kuala Tungkal-Kota Jambi. Ia mengantarku tes SBM di Unja. Ia juga yang mengantarku dari Kuala Tungkal, Jambi-Indralaya,Sumsel yang memakan waktu perjalanan pulang pergi satu hari satu malam penuh. Bapak menyemangatiku bertahan bekerja disebuah koperasi 2 bulan sebelum aku berangkat ke indralaya, jadilah kudapat pengalaman mengenai wirausaha dan mengolah blog. Ia yang membantuku belajar bekerja sebelum berangkat ke Indralaya, kami membuka sebuah kapal wisata bernama “Kapal Wisata Raja” dengan rute Water Front City ke Pelabuhan Roro yang kurang lebih berjarak beberapa kilometer. Untuk tarif setiap orang membayar Ro.10.000. Kemudian dari situlah tambahan uang saku yang kumiliki sebesar 1 juta kubawa ke Indralaya.
          Dari sini kumulai cerita bapakku bersama kapalnya. KM. Anugrah begitu bapak menyebutnya. Ketika sebulan yang lalu aku pulang ke kota kelahiranku pada 2 Februari delapan belas tahun silam, kota kecil nan damai, Kuala Tungkal. Tepat dihari raya idul adha, aku membuka lembaran kertas-kertas SMA yang kusimpan. Kudapati selembar HVS, dan kau tau isinya? Itu adalah desain kapan yang bapak buat dua tahun yang lalu, mengejutkan ketika aku mengingat bahwa kapal berukuran kurang lebih 13x5 meter itu didesain bapak pada selembar kertas HVS. Bapak tak memiliki latar pendidikan teknik, ataupun permesinan. Bapak seharusnya menjadi guru hari ini, ia lulusan SMA PGRI di kotaku, namun bapak memilih jalannya sendiri, itu yang membuatnya bahagia, aku menyebutnya kebebasan.
          Kini aku kembali pada kapal bapak, dua tahun silam bapak mulai menabung membeli kayu besar yang tak aku ketahui namanya menjadi kerangka kapal. Kemudian keping demi keping papan dicicilnya. Tak dapat kulupakan ketika kerangka itu telah jadi, banyak orang yang mencemooh bapak, banyak orang yang meragukan bahwa kapal ini akan berlayar. Bapak mengerjakan sendiri kapalnya dan kadang dibantu orang-orang sekedarnya.
          Singkat cerita setiap harinya kapal bapak semakin terbentuk. Entah darimana orang-orang mengetahui rencana bapak membuat dua mesin untuk kapalnya, seperti kuduga orang-orang kembali mencemooh, namun aku ingat semakin tinggi pohon maka semakin besar angin yang menerpa. Begitulah hingga saat ini, meskipun kapal ini tak sebesar yang dibayangkan, tapi bapak setidaknya bisa melaut, mengantar orang memancing, maupun mengantar barang, bapak menikmati hidupnya.
Kuingat saat hari penentuan penurunan kapal di bulan ramadhan, jika kapal ini mengapung maka selamanya akan begitu, tapi bila kandas maka hancurlah semua kerja keras bapak selama dua tahun. Subuh itu bulan tengah bulat penuh dan cantik sekali, ketika itu Raja berdiri tepat dikapal bagian depan sambil mengumandangkan azan dan bapak menurunkan kapal dari tempatnya, aku berdegup. Hingga ketika penyangga kapal telah terlepas, kapal bapak sempat goyang, namun akhirnya dapat berdiri dengan gagah, proses ini juga sama tegangnya saat aku membaca novel Andrea Hirata. Namun keesokan paginya setiap orang yang meremehkan bapak terbungkam.
Mengingat kerja kerasnya. Aku tau bapak tak pernah berharap aku menjadi guru, ia ingin aku menjadi lulusan teknik sipil dan sejenisnya, bapak tau aku takkan betah didalam kelas mengajar. Namun, itulah tugasku kini, membuktikan bahwa jalan yang telah kulalui takkan membuatku lupa akan tujuanku membahagiakan keluarga. Aku masih anak yang sama yang mereka besarkan dengan kasih saying, tetes keringat dan air mata. Semoga Allah merestui setiap pengorbanan mereka berbalas bahagia dunia akhirat.

-Aku rindu pada senja saat kau cium pipiku didepan teman-temanku, ketika kau usap kepalaku tanpa batas waktu, ketika kau peluk aku hangat, ketika kugenggam tanganmu diperjalanan, ceritamu, bapak-

Komentar

Postingan Populer