PERJALANAN HIDUP KITA
00.34
8 Maret 2021
Terkadang, kita menemukan suatu titik, dimana kita ingin bercerita pada seseorang. Namun adakalanya kita ingin lebih lama menyendiri, bercerita dan mendengarkan cerita dari oleh dan pada diri sendiri, sebuah upaya demokrasi bagi jiwa yang merdeka.
Malam semakin larut,
Angin mulai berhembus melalui ventilasi,
mata mulai berat,
tubuh pun ingin beristirahat,
tapi ada jiwa yang ingin bercerita, adapula yang ingin mendengarkan,
ditemani secangkir susu coklat hangat, malam ini menjadi sedikit lebih panjang.
Seseorang mengetuk pintu kamar, masuk dengan senyum mengulum penuh arti. Ia duduk diujung kasur, membawa sebuah buku dan membacakannya. Buku berisi pesan pesan dari orang-orang yang peduli namun tak semua mengerti.
ia mulai membaca
Seseorang sedikit tersenyum mengatakan kau terlalu gigih mengejar impianmu, tidakkah kau sudah lama tak pulang, budi mu tak sampai.
Seseorang sedikit melirik kau terlalu tamak mencari uang, mengambil semua peluang, tak fokus pada masa depan, kadang niatmu pun goyang.
Seseorang sedikit menghela mengatakan kau terlalu munafik, membuat cover buku yang baik namun akidah akhlak dan ibadahmu mungkin sudah antik.
Seseorang sedikit berbisik mengatakan kau terlalu bodoh, mengiyakan semua pinta, mengedepankan urusan mereka, sampai tak paham prioritas diri sekarang yang mana.
Seseorang tanpa segan bicara kau sok hebat, bicara sok kuat, alibi sok mendebat, memaparkan panjang lebar tapi karya dan hasilmu tak pernah terdengar, kau tak pernah membawa angin segar.
Seseorang kemudian berdiri berteriak, mengatakan kau tak berbuat apapun, tak bermanfaat sekalipun, tak memberi banyak arti dan tak pernah benar benar peduli.
Akhirnya seseorang tediam duduk dalam tenang disebelah kasurnya. Ia menuntunnya untuk berdoa sebelum tidur, membisikkan dengan lembut bahwa ia tak sendirian, cukup lakukan sebisamu, selalu dengan bismillah, dan berupaya untuk selalu memperbaiki diri, karena kebencian dan cinta seseorang pada seseorang yang lain, bisa jadi karena pribadi yang buruk atau yang baik, namun yang maha membolak balikkan hati adalah pemegang kunci atas apa yang akan orang lain rasakan, namun itu takkan menyakiti hatimu ketika kuatmu ada.
manusia hanya mampu berusaha, menyentuh hati manusia yang lain, tapi keputusan ada pada Nya. hidup untuk membahagiakan orang lain akan sangat berat ketika kau hanya punya waktu di dunia selama usia rata rata kematian manusia. Maka bahagiakanlah dirimu sendiri, karena orang orang yang menyayangimu akan turut berbahagia melihatmu bahagia. Bahagialah dalam kebaikan, karena tak pernah ada yang sia sia dalam kebaikan.
"Hidup ini penuh dengan pelengkap, suka duka, baik buruk, jauh dekat, sesak lega, sama halnya seperti genapnya Basmallah dengan Hamdallah"
Malam semakin larut, ia pun beranjak, menutup selimut, mengalungkannya erat, meninggalkan ruangan lekat. Ia pergi, bersama doa sebelum tidur yang menghantarkan pada lebih banyak ketenangan. Semua pulang, dengan senyum dan akhir yang juga menenangkan. Membawanya untuk lebih mencintai dirinya sendiri dan menyadarkannya untuk tak merasa cukup baik untuk terus memperbaiki diri, membahagiakan diri, dan berhenti untuk lari.


Komentar
Posting Komentar