“Sebuah Cerita, Bukan untuk Mahasiswa-Untuk Kita”

Bismillahirrahmanirrahim,
Sudah pukul 10 malam dan kantuk tak kunjung datang, tak tahu pasti apa yang membuatku sampai ingin membuka sebuah buku. Kualihkan pandanganku pada tumpukan buku yang warnanya tak lagi senada. Sebuah buku bersampul gelap memanggil untuk diraih.
Ya, aku ingin membaca buku bukan karena ingin, aku sedang sendirian. Begitulah, aku selalu sulit tidur ketika sendirian, seringkali semua berakhir menjadi tulisan. Tapi kali ini kita beruntung, aku membagikan tulisan ini, hahaha semoga kau tak menyesal telah membaca. 
Sobat, buku yang tadi kuceritakan, bukan sekedar benda mati. Tapi, ketika kubuka lembaran didalamnya seketika menampar jiwa yang masih terjaga ini. Tak inginkah kau bertanya isinya? Tapi satu syarat kuajukan jika kau ingin membacanya, baca perlahan, lambat, dan resapi. Silahkan.
Isinya hanya sebuah paragraf pendek, berisikan kalimat indah tak bertuan:

“ Apakah kenikmatan surga dan ridha Allah tak lagi menggiurkan bagi kita, sehingga saat kita sedekah kita hanya berharap harta kita berlipat ganda? Tiap tahajud hanya agar keinginan kita terwujud? Kita berdhuha hanya agar dunia kita dicukupi-Nya”

Kalimat itu semakin tegas tatkala kubaca firman yang menyertainya:
“ Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (Q.S. Al-An’am : 162).

Aku teringat kala itu, ketika Murobbi membahas tentang syahadatain, tentang Allah sebagai muara setiap aktivitas kita, ya itulah kenapa bismillah selalu diucapkan diatas apapun yang ingin kita Lakukan.

Lalu, apa yang kita dapat? iya, terkadang sebuah pelajaran atau ilmu seperti diatas sangat mudah untuk dihapal dan diingat, tapi sekali lagi, sudahkah kita menerapkannya dalam kehidupan? Dan sudahkah kita libatkan Allah disetiap langkah kita?
Mulai besok, bangun lebih awal, dan awali setiap aktivitas bersama basmallah dalam keikhlasan.

Mari terus memperbaiki diri,
Selamat beristirahat.

Komentar

Postingan Populer