Hujan Rindu di Bulan Februari
Assalamualaykum warahmatullahi wabarakatuh.
Semangat pagi!
Katanya ketika kita dilahirkan oleh seorang ibu, dari rahim yang sama, maka kita adalah adik kakak. Namun bagaimana jika kita dilahirkan ditempat yang berbeda, dirawat dalam rahim ibu yang berbeda dan dibesarkan tanpa saling mengenal. Hingga suatu hari takdir mempertemukan. Kita merasa saling nyaman, menjaga dan terjaga.
Sore itu indah, tak terlihat si bungsu menikmati senja seperti biasanya. Ia berbaring, terdiam, membuka beberapa file dalam perangkatnya. Si sulung pun duduk dengan santai, membuka beberapa aplikasi dalam telepon genggamnya. Hening, hanya sama sama menikmati kecanggihan teknologi.
Semakin larut, azan memecah hening dalam sibuk yang tak terdefinisikan. Mereka mendekap ukhuwah dalam waktu bersama sang pencipta, aktivitas beralih bersama sahutan yang mulai membuka suara.
Hari semakin larut, masih dalam pembicaraan yang hangat, hingga lelap dan esok tiba. Lagi, sehangat sebelumnya, seakan mereka punya ibu yang satu, saling dekap dalam persaudaraan tanpa pertalian darah secara biologis. Berat, mungkin waktu dan jarak akan sangat mudah memisahkan mereka. Tapi hari itu mereka hanya ingin saling menetap dalam ruang ukhuwah yang telah ada.
Hari berlalu, bulan berhitung, masa depan telah disana, duduk manis diantara pintu dan jendela, menyambut sang pengembara. Musim penghujan segera berakhir, namun gerimis Februari seakan menandakan waktu yang tersisa. Dingin, mulai dingin. Namun berubah hangat, tanpa menyengat.
selanjutnya bukan teknologi, sebuah nikmat yang patut disyukuri bahwa mereka punya hati. Si bungsu tak lagi bertanya kenapa ada kita, si sulung tampak lebih tenang karena jawabannya selalu menang. Mereka terus berlalu, hari tak lagi ingin dihitung, bulan pun telah menandakan purnama. Seakan sebuah teko dielus, permintaan sebelum berpisahpun terlontarkan.
kali ini si bungsu adalah Aladin. Menjelma dan berkesempatan menyebutkan permintaan. jangan hitung waktu yang tersisa, nikmati saja. Kita masih bersama, jarak dan waktu sedikit datang terlambat ia telah kirimkan surat. Terus berbagi cerita, suka, duka, saling mendengarkan, dijaga dan terjaga. Jangan minta satu atau dua, jika ujungnya cukup kita segera membahagiakan kedua orang tua.
Terakhir, sudah terlanjur tertanam cinta, akar pun telah kokoh, biarlah ia tumbuh mendekap kita, dalam ukhuwah yang berasal dariNya. bersemangatlah akan prosesmu, bersegeralah dalam tugas dan kewajibanmu, cepat siapnya. Akan ada yang menagih kado indah dihari bertambahnya usia ingin melihatmu wisuda.
Teruslah berjuang, dan lanjutkan mimpimu, pesan si bungsu pada sehelai jingga di langit ketika kelabu menyelimuti langit senja sang sulung yang tak terasa.
Semangat pagi!
Katanya ketika kita dilahirkan oleh seorang ibu, dari rahim yang sama, maka kita adalah adik kakak. Namun bagaimana jika kita dilahirkan ditempat yang berbeda, dirawat dalam rahim ibu yang berbeda dan dibesarkan tanpa saling mengenal. Hingga suatu hari takdir mempertemukan. Kita merasa saling nyaman, menjaga dan terjaga.
Sore itu indah, tak terlihat si bungsu menikmati senja seperti biasanya. Ia berbaring, terdiam, membuka beberapa file dalam perangkatnya. Si sulung pun duduk dengan santai, membuka beberapa aplikasi dalam telepon genggamnya. Hening, hanya sama sama menikmati kecanggihan teknologi.
Semakin larut, azan memecah hening dalam sibuk yang tak terdefinisikan. Mereka mendekap ukhuwah dalam waktu bersama sang pencipta, aktivitas beralih bersama sahutan yang mulai membuka suara.
Hari semakin larut, masih dalam pembicaraan yang hangat, hingga lelap dan esok tiba. Lagi, sehangat sebelumnya, seakan mereka punya ibu yang satu, saling dekap dalam persaudaraan tanpa pertalian darah secara biologis. Berat, mungkin waktu dan jarak akan sangat mudah memisahkan mereka. Tapi hari itu mereka hanya ingin saling menetap dalam ruang ukhuwah yang telah ada.
Hari berlalu, bulan berhitung, masa depan telah disana, duduk manis diantara pintu dan jendela, menyambut sang pengembara. Musim penghujan segera berakhir, namun gerimis Februari seakan menandakan waktu yang tersisa. Dingin, mulai dingin. Namun berubah hangat, tanpa menyengat.
selanjutnya bukan teknologi, sebuah nikmat yang patut disyukuri bahwa mereka punya hati. Si bungsu tak lagi bertanya kenapa ada kita, si sulung tampak lebih tenang karena jawabannya selalu menang. Mereka terus berlalu, hari tak lagi ingin dihitung, bulan pun telah menandakan purnama. Seakan sebuah teko dielus, permintaan sebelum berpisahpun terlontarkan.
kali ini si bungsu adalah Aladin. Menjelma dan berkesempatan menyebutkan permintaan. jangan hitung waktu yang tersisa, nikmati saja. Kita masih bersama, jarak dan waktu sedikit datang terlambat ia telah kirimkan surat. Terus berbagi cerita, suka, duka, saling mendengarkan, dijaga dan terjaga. Jangan minta satu atau dua, jika ujungnya cukup kita segera membahagiakan kedua orang tua.
Terakhir, sudah terlanjur tertanam cinta, akar pun telah kokoh, biarlah ia tumbuh mendekap kita, dalam ukhuwah yang berasal dariNya. bersemangatlah akan prosesmu, bersegeralah dalam tugas dan kewajibanmu, cepat siapnya. Akan ada yang menagih kado indah dihari bertambahnya usia ingin melihatmu wisuda.
Teruslah berjuang, dan lanjutkan mimpimu, pesan si bungsu pada sehelai jingga di langit ketika kelabu menyelimuti langit senja sang sulung yang tak terasa.


Somehow, I forgot how did I end up here. But, I found a good story, and writing.
BalasHapusHello, there!
Helloww! Thanks to read or! Hope you enjoy
Hapus